👥Peserta : General Manager, Operasional Holding, Sekretaris Holding, Human Capital Strategist, & Manager Finance
📝Topik :
1. Pembahasan Rencana Tindakan Pembahasan Strategi Penyelesaian Produksi Q2
2. Pembahasan Rencana Tindakan Dept. Holding (komersil - bisdev-arkana)
3. Pembahasan Rencana Tindakan Fix Cost Holding
NOTES
📌 1. Strategi Penyelesaian Produksi Q2
📋 Catatan:
Permasalahan utama: Keterlambatan produksi akibat keterlambatan order oleh tim PPIC. Penumpukan order membutuhkan penyesuaian timeline penyelesaian selama dua bulan, dengan mengoptimalkan SDM dan sumber daya lainnya. Tindakan-tindakan operasional mencakup: Penyesuaian alokasi dan kapasitas SDM, serta kemungkinan alih fungsi jabatan sementara. Penggunaan lembur dan tenaga freelance untuk percepatan produksi, dengan plafon biaya tambahan maksimal Rp50 juta. Aktivitas packing (terutama unit Renjana) berpotensi lembur. Berlaku mulai Agustus 2025: alokasi Rp239 juta, potensi pengeluaran Rp280 juta. Kelebihan anggaran Rp41 juta sebagian ditutup dari pengembalian dana fraud sponsorship marketing sebesar Rp28,5 juta. Biaya reguler berhasil ditekan dari Rp60 juta menjadi Rp40 juta. Evaluasi layouter tetap dilakukan meski dengan konteks yang diperbarui. Konfirmasi masa kerja karyawan dilakukan di bulan Mei. Rekrutmen dilakukan di bulan Juni jika dibutuhkan, agar SDM sudah on-board Juli 2025. ✅ Rekomendasi:
Optimalisasi SDM berdasarkan hasil evaluasi tim produksi. Menetapkan struktur jabatan yang efisien dan memperjelas fungsi jabatan. Perlu tindakan kontrol dan pemetaan proses dari manajemen untuk mendukung perencanaan tenaga kerja (Manpower Planning) hingga 2026. Human Capital Strategist menyusun proyeksi kebutuhan SDM jangka panjang berdasarkan visi, misi, nilai, dan OKR organisasi. Finance menekankan pada efisiensi biaya dan pengendalian pengeluaran ekstra. 🧭 Kesimpulan:
Temuan utama: PPIC menjadi sumber utama keterlambatan produksi. Keputusan strategis: Diperlukan penguraian data produksi, restrukturisasi peran, dan penguatan mitigasi. Keputusan implementasi: Disusun langkah kontrol internal, proses rekrutmen terstruktur, dan pendekatan efisiensi biaya tanpa mengurangi kualitas produksi. Dampak positif: Langkah rekrutmen dan penyesuaian jabatan akan memperkecil anggaran jangka panjang. 📌 2. Rencana Tindakan Dept. Holding (Komersil – Bisdev – Arkana)
📋 Catatan:
Komersil: Diputuskan untuk dihentikan. Finance merekomendasikan penghentian, sambil menyelesaikan masa kontrak SDM selama 4 bulan ke depan. Operasional dan HCS menyarankan transformasi fungsi ke unit Abankirenk, menekankan pentingnya brand dalam mendukung penjualan digital. CMO perlu memberikan arahan strategis terhadap fungsi branding; jika tidak efektif, lebih baik dihentikan. Terdapat potensi pemisahan produk antara fix cost dan bisnis Arkana. Finance dan Operasional mendukung pembentukan Arkana sebagai unit bisnis baru dan fix cost tetap ditangani oleh Arkana. HCS menekankan kebutuhan akan struktur SDM (produksi & pemasaran), target kerja, alur, serta business process mapping untuk menjadikan Arkana sebagai unit bisnis mandiri. ✅ Rekomendasi:
Komersil dihentikan secara menyeluruh. Bisdev diberikan masa transisi 4 bulan untuk menyelesaikan kontrak SDM; selanjutnya diintegrasikan ke unit Abankirenk. Fungsi branding dikaji ulang dari sisi efektivitas dan integrasi ke pemasaran digital. Arkana disiapkan menjadi unit bisnis baru dengan ketentuan jelas terkait SDM, target, dan alur kerja. Perlu pembedaan produk dan proses antara Arkana dan Fix Cost. 🧭 Kesimpulan:
Komersil resmi dihentikan. Bisdev akan dilanjutkan sementara, sambil disiapkan alih fungsi. Arkana diproyeksikan menjadi unit bisnis independen, dengan tugas untuk membentuk struktur dan alur internal secara jelas. Fix cost tidak dibubarkan, namun diarahkan ke Arkana dengan batasan fungsional tertentu. 📌 3. Reposisi Peran CMO: Dipegang CEO atau Perlu Jabatan Tersendiri?
📋 Catatan:
Diskusi strategis antar C-Level menunjukkan keraguan terhadap efektivitas penggabungan peran CEO dan CMO. Fokus kerja yang terpecah bila CEO merangkap CMO. Potensi konflik kepentingan dalam pengambilan keputusan strategis. Risiko ketidakefektifan dalam fungsi pemasaran digital yang spesifik dan dinamis. Perlu disiapkan SOP dan struktur kerja apabila CMO dijalankan oleh satu orang baru. ✅ Rekomendasi:
Evaluasi struktur C-Level untuk menentukan kelayakan rangkap jabatan. Siapkan batasan waktu percobaan bila CEO tetap merangkap CMO. Human Capital Strategist menyiapkan lembar kerja Manpower Planning khusus CMO, termasuk SOP, target kerja, dan ekspektasi hasil. Bila performa tidak sesuai, segera direkrut CMO baru dengan fokus penuh pada strategi pemasaran digital dan branding. 🧭 Kesimpulan:
Peran CMO dan CEO sebaiknya tidak dirangkap dalam jangka panjang. Diperlukan masa transisi dengan pengukuran performa dan efektivitas jika saat ini masih dijalankan oleh satu orang. Langkah ke depan: persiapan struktur jabatan, SOP, dan rekrutmen strategis bila dibutuhkan.