Kemampuan masyarakat untuk membeli barang/jasa sesuai pendapatan riil.
Menentukan potensi pasar ritel, F&B, properti, lifestyle.
Kelompok penduduk dengan pengeluaran per kapita menengah (Rp500 ribu–Rp1,5 juta/bulan).
Segmen utama konsumen urban Purwokerto.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota sehingga menaikkan kepadatan kota.
Membuat Purwokerto Selatan tumbuh cepat sebagai area ekspansi.
Segmen dengan pengeluaran > Rp1,5 juta/kapita/bulan.
Pasar potensial F&B modern, mall, klinik kecantikan.
Nilai impor lebih besar dari ekspor.
Membuka peluang substitusi produk lokal Purwokerto.
Pasar yang pasti ada dan relatif stabil.
Mahasiswa & karyawan di Purwokerto = captive market F&B & kos.
Fasilitas fisik (jalan, kereta, listrik, air, internet) yang menunjang aktivitas ekonomi.
Perbaikan jalan & stasiun kereta memperkuat posisi Purwokerto sebagai hub logistik.
Middle Class Consumption Shift
Pergeseran pola konsumsi dari kebutuhan pokok ke lifestyle.
Terlihat dari lonjakan hiburan & perawatan pribadi di Purwokerto.
Kenaikan harga barang/jasa secara umum & terus-menerus.
Inflasi pangan & transportasi paling terasa di Purwokerto.
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)
Ukuran rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.
Menunjukkan tingkat kerentanan daya beli kelompok miskin Purwokerto.
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
Ukuran ketimpangan di antara penduduk miskin.
Menunjukkan distribusi kesejahteraan segmen miskin.
Ruang kerja bersama untuk freelancer/startup.
Potensial di Purwokerto karena urbanisasi & mahasiswa kreatif.
Pola hidup modern berbasis hiburan, perawatan pribadi, konsumsi gaya hidup.
Purwokerto jadi pusat lifestyle untuk Banyumas.
Aktivitas ekonomi terkait hajatan/upacara (WO, catering, dekorasi).
Relevan karena pengeluaran upacara naik di Purwokerto.